KASONGAN – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Kasongan mulai menjajaki kerja sama dengan sektor industri pengolahan rotan sebagai upaya memperkuat program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Langkah tersebut dilakukan melalui kegiatan konsolidasi dan silaturahmi antara Humas Lapas Narkotika Kasongan, Yustiman, dengan Manajer Operasional Pengolahan Rotan di Hampangen, Kabupaten Katingan, Steven Setiawan, Rabu (17/6/2026).
Pertemuan yang berlangsung di lokasi pengolahan rotan itu menjadi bagian dari upaya membuka ruang kolaborasi antara lembaga pemasyarakatan dan dunia usaha untuk menciptakan program pembinaan yang lebih produktif dan berorientasi pada keterampilan kerja.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas sejumlah peluang kerja sama yang dapat diterapkan di lingkungan lapas. Fokus pembahasan mencakup pengembangan keterampilan warga binaan melalui industri kerajinan rotan hingga penguatan jejaring dengan pelaku usaha dan asosiasi kerajinan tangan.
Selain itu, terdapat rencana pengembangan kelompok menjawet rotan dengan standar produksi industri yang diarahkan untuk mampu memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas, termasuk pasar nasional dan internasional.
Yustiman mengatakan, keterlibatan sektor industri dinilai penting untuk menciptakan program pembinaan yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga binaan setelah menyelesaikan masa pidana.
“Melalui kerja sama seperti ini, kami berharap warga binaan dapat memperoleh keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar dan menjadi bekal untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri ketika kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Menurut dia, pengembangan keterampilan berbasis industri juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia warga binaan agar memiliki kemampuan kerja yang kompetitif.
Sementara itu, Steven Setiawan menyambut positif inisiatif yang dilakukan pihak Lapas Narkotika Kasongan.
Ia menilai sektor pengolahan rotan memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai media pelatihan tenaga kerja karena membutuhkan keterampilan yang dapat dipelajari secara bertahap.
Steven mengatakan, pembinaan yang terintegrasi dengan kebutuhan industri berpotensi menghasilkan tenaga kerja yang lebih siap dan memiliki standar kerja yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Sementara itu, Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Kasongan, Batara Hutasoit, mengapresiasi langkah yang dilakukan jajaran Humas dalam membangun jejaring dengan pelaku industri di Kabupaten Katingan.
Menurut Batara, sinergi dengan dunia usaha menjadi strategi penting dalam memperkuat program pembinaan kemandirian yang selama ini dijalankan di lingkungan lapas.
“Kami terus membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas pembinaan di dalam lapas. Industri pengolahan rotan memiliki potensi yang baik sebagai sarana pelatihan keterampilan sehingga warga binaan memiliki bekal kompetensi dan kemampuan berwirausaha setelah kembali ke masyarakat,” kata Batara.
Ia berharap hasil konsolidasi tersebut dapat ditindaklanjuti menjadi program kerja sama yang konkret, terutama dalam pengembangan kelompok kerja kerajinan rotan.
“Sehingga dapat meningkatan kapasitas SDM warga binaan, serta mendukung proses reintegrasi sosial dan ekonomi warga binaan setelah menjalani masa pidana,” tutupnya.(B1)












